Read Jatisaba by Ramayda Akmal Online

jatisaba

"Inilah sebuah kisah liris berlatar pastoral yang secara lihai menguliti fenomena sindikat perdagangan orang di tengah sengketa politik lokal dan cerita cinta yang getir. Sebuah novel perdana yang menjanjikan banyak hal di masa depan."Anton Kurnia, Juri Sayembara Menulis Novel DKJ 2010...

Title : Jatisaba
Author :
Rating :
ISBN : 9789791852685
Format Type : Paperback
Number of Pages : 340 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Jatisaba Reviews

  • Teguh Affandi
    2019-06-14 11:00

    Setelah Ronggeng Dukuh Paruk, sepertinya novel-novel berlatar pedesaan tak berhasil menggugah kesadaran membaca. Memang setelah itu banyak novel-novel yang memiliki rasa pedesaan, tapi sekadar lewat dan apa adanya. Kurang spesial. Namun Jatisaba, berbeda. Novel ini berhasil membuat saya mengatakan Gila! setelah berhasil di frasa tamat. Penulis yang dahulu kerap saya asosiasikan sebagai laki-laki yang ternyata adalah perempuan benar-benar berhasil memotret sebuah kejadian singkat di Dusun Jatisaba dengan intrik, klenik dan nostalgia yang mendalam. Cerita babon memang soal Mae yang kembali ke JAtisaba untuk mencari calon-calon TKI. JAtisaba dikisahkan sebagai desa yang kecil, miskin, dan dipenuhi kepercayaan atas dunia magis. Maka tidak aneh bila sepanjang novel adegan-adegan klenik akan bertaburan. Mae di satu sisi kembali mengembalikan nostalgia akan masa kecil, cinta-cinta remaja, juga kelacurannya di Jatisaba. Selain barbar soal pembunuhan, di Jatisaba juga barbar soal seks. Keeekee, khas daerah banget. Kalau dusun itu masih memegang kepercayaan pada dunia animisme-dinamisme, pasti praktik perselingkuhan marak.Mae juga harus melawan nurani, karena sejatinya Mae bekerja sebagai calo TKi yang sebenarnya hanya bekerja untuk uang tanpa berniat memabntu perekonimian.Tapi, masalah besar bukan hanya itu. Mae tiba di saat Jatisaba sedang panas soal pilkades yang melegenda di Jatisaba. Karena pilkades di Jatisaba sama dengan pertaruhan soal nyawa dan segenap harta. (Dan pertanyaan saya sama dengan pertanyaan Mae di halaman 223: sebegitu memesonakah menjadi kepala desa sehingga prosesinya begitu melelahkan dan berdarah-darah?) Karena dalam buku ini akan digambarkan betapa untuk memperolah posisi sebagai kepala desa, Mardi, Jompro, dan Joko saling beradu harta, kekuasaan, dan kekuatan dukun. Darah dan kematian bisa saja dibuang demi posisi ini. Dan yang belum tersampaikan ialah apa imbalan menjadi kepala desa, selain sebentuk kursi kekuasaan yang manis? Bengkok desa, dan hantaran dari warga desa? Mungkin iya. Karena di novel tidak disebutkan.Sebenarnya nasib Mae akan baik-baik saja, kalau Mae hanya fokus mencari calon pegawai TKI tanpa terjerat intrik politik menjelang pilkades. Mae sedari awala sudah salah memilih lokasi tinggal, kemudian mau tidak mau harus terlibat karena Sitas adalah istri dari Potun yang adalah bagian dari tim pemenangan Mardi. Sebaliknya, diam-diam dia menjalin kerja sama kotor nan lacur dengan Jompro. Gao kekasih pertama bagian dari tim pemenangan Mardi. Ah mbulet deh.Dan endingnya memang menghunjam. Suka dengan ending simbolis demikian.Tapi, ada beberapa pertanyaan yang belum terwakili oleh teks dan dibiarkan mengambang oleh penulis. Mengapa keluarga Mae dan rumahnya hancur bernatakan, tidak dijelaskan. Terus mengapa diam-diam mae bisa menegrti kondisi Jatisaba setelah dia sudah di bandara menuju Hongkong (bab terakhir). Dua hal ini agak lubang atau memang di sengaja agar pembaca menerka-nerka dan mengira-ngira hal-hal yang tersirat.Novel ini adalah nostalgia. Karena budaya lokal tak jauh berbeda dengan desa saya di pelosok Blora sana. Tapi ada satu frasa paling favorit saya:Daratan menyerahkan angin ke lautan untuk bercinta dengan ombak-ombak. Ombak bergulung-gulung tinggi penuh gairah. Tanda mereka mencapai puncak. Jika fajar tiba, angin itu kembali. Angin pagi yang basah bercampur embun dan air laut. Segar sekali. (hal.6)Dan bagaimana kelacuran sikap Mae dalam novel menjadi bagian indah sekaligus ironi.

  • Abduraafi Andrian
    2019-05-23 08:02

    Sungguhpun, butuh usaha keras untuk menyelesaikan buku ini. Bukan tentang ceritanya karena memang aku menyukai bagaimana kampung yang begitu mirip dengan kampungku dinarasikan, tapi lebih pada betapa sulit mencerna kalimat-kalimat yang njelimet.Lagi-lagi, tata bahasa dan penulisannya masih kurang rapi. Inginku mencorat-coret setiap kekurangrapiannya, tapi begitu banyak. Inkonsistensi penggunaan kata dan aturan cetak miring pun masih terlihat. Mengganggu, sebenarnya.Terlepas dari itu, aku suka bagimana unsur sosiologi dan antropologi dalam buku ini terburai jelas dan gamblang. Ebeg, nini cowong, obong bata, pilkades yang riuh. Dikemas dengan tema utamanya tentang penyaluran TKI alih-alih perdagangan manusia membuat buku ini berwawasan.Di sini, batas antara benar dan salah, hitam dan putih, amat kabur. Buku yang bikin "mikir".Mungkin akan diulas.

  • Alvina
    2019-06-01 12:17

    Just not my cup of teaJatisaba adalah sebuah desa kecil di Kota Cilacap. Buku ini menceritakan kisah tentang Mainah, atau yang biasa dipanggil Mae, ketika ia kembali ke kampung halamannya tersebut. Mae bekerja di kantor perekrutan tenaga kerja untuk dikirim ke luar negeri. Tujuan ia kembali ke desanya, semata mata hanyalah untuk mencari "mangsa" baru. Mereka yang direkrut sebenarnya tidak dipekerjakan dengan baik. Sebagian besar bekerja di tempat tempat ilegal, para wanitanya menjadi penghibur, penari di kelab malam, dan yang lelaki kadang dipekerjakan menjadi pengedar narkotika. Kepulangan Mae ternyata berbarengan dengan masa pemilihan Kepala Desa yang baru. Mau tidak mau, Mae terpaksa ikut masuk ke arus kampanye dan pemilihan tersebut. Kampanye kampanye yang kotor, tidak jujur dan saling menjatuhkan antarcalon. Saya agak ngga cocok sama buku ini, yaa mungkin karena bukan selera saja sih. Alurnya lambat, dan konfliknya lebih berfokus kepada kemiskinan penduduk Jatisaba. Kadang kasihan kadang sebel juga baca kisah kisah mereka. Dan ada banyak tokoh yang membuat saya sering kebingungan mbayanginnya.

  • Feti Habsari
    2019-06-10 10:20

    Mae, seorang wanita mantan pekerja migran yang mengalami nasib malang, terpaksa menjalani nasib buruk yang lain: menjadi kaki tangan sindikat perdagangan manusia internasional. Ironisnya, Mae diperintah untuk mencari korban di desa kelahirannya sendiri. Perjalanan ini mengantarkannya pada berbagai peristiwa yang mengaduk-aduk perasaan: nostalgia kehidupan desa, romantisme cinta masa lalu, dan jerat-jerat para makelar politik lokal yang serba rumit. Sementara itu, di tempat yang tidak terduga, jaringan besar kepolisian dan sindikat yang menginginkan dirinya mati terus mengejarnya.Novel ini mengisahkan nasib malang para pekerja migran serta kekejaman sindikat perdagangan manusia dan nasib para korban yang memilukan.***Jatisaba adalah keping-keping ingatan tentang bekas kampung halaman yang terjalin melalui penghayatan, pemakluman, pembekalan, dan hasrat untuk selalu ingin melemparkan diri kembali ke masa lalu.Pergilah, jangan meminta lambaian. Supaya kau tetap haus dan berharap.Mae. Tokoh utama dalam cerita ini sungguh lugas menceritakan perihal hidup, nasib, dan masa lalunya. Dalam novel ini terjadi pergolakan batin yang dialami Mae. Ia kembali ke kampung halamannya, Jatisaba. Menjenguk hidup yang selama ini telah ia tinggalkan. Menjenguk masa lalu yang sudah runtuh tertutup ilalang dan lumpur. Menjejakkan kaki di atas galengan yang sudah lama tak ia temui. Dan juga, menziarahi cinta pertamanya. Cinta pertama yang sampai detik ia masih bernafas tak akan pernah berkurang rasanya.Meski cinta pertamanya sudah memiliki hidupnya sendiri, keluarga kecil. Rasa yang dimiliki Mae tidak pernah berubah. Hatinya tidak pernah berpaling."Tak ada yang bisa kita lakukan. Biarkanlah seperti ini. Biarkanlah semua berjalan semau pikiran itu sendiri. Kalau harus sampai mati aku mengenang dirimu, aku akan menerimanya. Tapi biarkan aku di dalam pelukanmu ini. Aku ingin sejenak amnesia, tidak mengingat apa pun kecuali perasaan terhadapmu."Kenikmatan dari perpisahan ada pada ketidakrelaan kita untuk pergi...Mae kembali ke tempat kelahirannya bukan hanya untuk mengenang, tetapi juga bekerja. Memenuhi tugas dari bos besar brengseknya itu. Dengan batin yang gamang, ia mengorbankan orang-orang yang ia kasihi di Jatisaba, orang-orang yang memiliki ikatan masa lalu dengannya. Menumbalkan mereka kepada bos besarnya. Menjerumuskan mereka ke dalam lubang hitam yang tak akan pernah bisa lagi mereka keluar. Lubang yang selama ini dihuni olehnya. Merusak dan menghanguskan hidupnya. Berkelana dari satu negara ke negara. Satu ranjang ke ranjang yang lain. Desah nafas yang dikuasai nafsu para binatang-binatang berotak.Jatisaba. Desa yang tak akan pernah tenang ketika pemilihan Kepala Desa berlangsung. Segala fitnah, kecurangan, kejahatan, suap menyuap, dan segala apapun yang dapat dilakukan demi kemenangan. Ritual-ritual adat yang tetap dilakukan. Mereka, keluar dari lubang buaya untuk masuk ke kandang singa.Tidak saya temui kekurangan dari novel ini. Alur yang jelas dan kisah yang tergambar lugas sangat nikmat untuk dibaca tanpa ingin berhenti hingga halaman akhir. Font yang digunakan cukup memanjakan mata untuk membacanya dan tidak ditemukan typo.Dengan ending yang tak terduga, kisah ini cukup menarik dan tidak sia-sia untuk diselesaikan. Sebuah novel dari Ramayda Akmal ini cukup menginspirasi, menurut saya.

  • Stebby Julionatan
    2019-06-01 11:08

    akhirnya aku menemukan buku ini, Jatisaba. "Inilah sebuah kisah liris berlatar pastoral yang secara lihai menguliti fenomena sindikat perdagangan manusia...," ujar Anton Kurnia, salah seorang juri DKJ.ya, semenjak Jatisaba diumumkan menjadi salah satu novel unggulan DKJ 2010, saya berusaha mencarinya. sempat terlupa dan teringat kembali saat Bentang merilis Presiden karya (alm.) Wisran Hadi. sama-sama penulis yang karyanya masuk unggulan novel DKJ 2010.entah kenapa, di saat yang sama saya ditawari oleh seorang mahasiswa bimbingan saya sebuah buku sebagai hadiah. "kak, kakak pengen buku apa?" maka kepadanya saya bilang, "saya ingin Jatisaba. yang bekas juga gpp."well, rupanya usaha dan pertemuan saya dengan Jatisaba tidaklah terbilang mudah. Firman, mahasiswa bimbingan saya itu tidak mendapatkannya. sebagai penggantinya dia membelikan saya Focoult Pendulum-nya Umberto Eco.tapi... juga nggak bisa dibilang susah-susah amat juga. saya yang bego. ada sebuah magic kecil yang saya lupakan. Internet... Facebook. maka saya pun browsing, mencari akun FB Ramayda Akmal si empunya buku ini. dan berharap-harap semoga dia punya beberapa eksemplar buku tersebut untuk bisa dijual kepada saya. taraaaaaa..... dan inilah, akhirnya buku tersebut ada di pangkuan saya. bertanda tangan asli penulisnya pula. senyum saya pun mengembang. berbicara tentang Jatisaba, bab pertama membuat saya menyeritkan dahi. "aduh, antep tenan yo bukune. apakah saya akan betah membacanya berlama-lama?" sebab adegan pembuka adalah langsung adegan action ala di film2 horor. Mae, Gao dan Malim berlari, berkejar-kejaran di hamparan padi. dengan background mencekam, suara desing peluru dan rumah terbakar di belakangnya. tapi begitu memasuki bab berikutnya, saya terasa dan langsung terseret pada kisah Mae. Mae, yang dipaksa kembali ke kampung halamannya, harus menghadapi berbagai intrik politik di tengah pemilihan kepala desa. well... pokoknya seru... pokoknya bagus, banyak quote-quote indah yang bisa diunggah sebagai status FB. hehehehehe... dan emang ini kualitas novel yang aku suka, ada nuansa-nuansa kedaerahan yang diangkat.secara general, aku malah lebih suka novel-novel pemenang keluaran 2010 ini, ketimbang yang baru-baru 2012. tapi berbicara soal pemenang sebuah lomba sastra, tentunya semua kembali pada selera. munkin yang sekarang selera jurinya lagi jelek, ya... hanya Tuhan yang Maha Mengetahui. :)

  • Asya Azalea
    2019-05-20 15:03

    Ini novel kakak angkatanku yang jadi unggulan DKJ 2010. Gara-gara novel ini aku harus keliling, mulai dari kampus, sampai dibawa ke Tembi Rumah Budaya Yogyakarta dalam acaranya Koalisi Perempuan Indonesia, karena kebetulan aku selalu ditunjuk jadi MC launching dan promonya, hahaha XDHmm, untuk ceritanya silakan baca sendiri review-review yang lain. :p Yang jelas, ini novel etnografis. Kejahatanhuman traffickingterdeskripsi dengan baik. Baca novel ini membuat aku selalu pengin pulang ke kampung halaman. :)

  • Dian Hartati
    2019-06-11 15:13

    Sudut pandang dari pelaku kejahatan yang tidak jahat. Mae selalu merasa bersalah membohongi teman-teman masa kecilnya. Mae menginginkan libur panjang dan melakukan hal yang tak diinginkan itu.Mae dendam kepada masa lalunya, namun juga takluk pada masa depannya.Jatisaba memiliki akhir cerita yang tak terduga!

  • Nastiti
    2019-05-25 09:20

    Kecuali pembuka yang sedikit membingungkan, saya sangat menikmati membaca novel ini. Kisah berisi realita kehidupan sosial semacam Jatisaba ini menggugah kesadaran saya bahwa masih sangat banyak hal di luar sana yang sangat memprihatinkan. Baik yang berkaitan dengan tingkat ekonomi, pendidikan, maupun mental bangsa ini. Novel semacam ini perlu dibaca oleh banyak orang.

  • Inggriani Roosi
    2019-06-12 16:15

    Bagus! Menceritakan sindikat rekrutmen TKI ilegal sekaligus mengupas budaya lokal pesisir Jawa dengan bahasa yang apik. Alur ceritanya tidak bertele-tele dan tidak menghilangkan satu bagian pun yang penting bagi pembaca. Bagus!

  • Juliardgi
    2019-06-10 09:18

    its nice

  • Tikah Kumala
    2019-06-04 07:58

    Udah lama ada di rak buku, tapi baru baca bab "Galengan" hehehe...

  • Happy Dwi Wardhana
    2019-06-02 09:24

    Astaga, ini bagus sekali! Saya harus membaca pelan-pelan kalimat demi kalimat sambil membayangkan suasana desa dengan hamparan sawah dan gubuk-gubuknya.Polemik yang diangkat di novel ini juga sangat unik; perdagangan manusia dan politik pedesaan. Ini adalah gambaran nyata negara ini. Yang lapar akan melakukan apa saja agar perutnya kenyang. Yang kaya akan menghalalkan segala cara agar dirinya berkuasa.Yang agak saya sayangkan adalah tidak adanya penjelasan kapan Mae pergi merantau menjadi TKI, dan ada apa dengan keluarga dan rumahnya selepas dia pergi. Di buku ini hanya digambarkan bahwa rumah Mae telah dijual ayahnya pada salah satu TKI, namun tidak ditempati sehingga rumah tersebut kosong dan ditumbuhi banyak ilalang. Saya juga menangkap adanya persilisihan Mae dan orang tuanya, tetapi juga tidak diungkap. Semestinya 3-4 paragraf cukup untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di keluarga Mae.Hal lain yang sedikit mengganggu adalah ucapan-ucapan Sitas yang kedengaran terlalu filosofis. Untuk tokoh yang digambarkan tidak berpendidikan tinggi dan tinggal di desa, saya rasa perkataan-perkataannya kurang begitu cocok. Bisa jadi karena diungkapkan dalam bahasa Indonesia, bukan bahasa Jawa, jadi terkesan terlalu terpelajar.Secara keseluruhan, ini adalah novel yang apik. Dituturkan dengan gaya bahasa yang mengalir, dan ending yang pas.