Read Dongeng Afrizal by Pringadi Abdi Online

dongeng-afrizal

Kenangan-kenangan tentang cinta pertama selalu datang dan pergi silih berganti...”Nani adalah murid pindahan. Dia satu kelas dengan Afrizal di bangku SD. Dia cantik, kulitnya putih, anak tentara, pandai menyanyi, agamanya Katolik. Afrizal kulitnya hitam, anak tukang cangkul, punya koreng di kaki sebesar biji kelereng, takut dengan tentara, agamanya Islam. Di kelas mereka aKenangan-kenangan tentang cinta pertama selalu datang dan pergi silih berganti...”Nani adalah murid pindahan. Dia satu kelas dengan Afrizal di bangku SD. Dia cantik, kulitnya putih, anak tentara, pandai menyanyi, agamanya Katolik. Afrizal kulitnya hitam, anak tukang cangkul, punya koreng di kaki sebesar biji kelereng, takut dengan tentara, agamanya Islam. Di kelas mereka ada juga Deni, yang menyukai Nani gila-gilaan, agamanya Protestan. Setiap pelajaran agama, Nani dan Deni disuruh keluar oleh ibu gurunya karena tidak seiman. Tetapi Nani tidak suka dengan Deni.Afrizal suka dengan Nani. Dan Nani pun menanggapi. Dia mengajari Afrizal Bahasa Inggris dan sering ngobrol tentang hal-hal menyangkut agama, seperti kenapa orang Kristen makan babi dan orang Islam tidak. Tetapi keakraban mereka tidak berlangsung lama. Hanya setahun. Nani pindah sekolah karena bapaknya dipindahtugaskan. Afrizal sangat sedih. Sejak itu dia terobsesi dengan segala hal tentang Nani, yang wajahnya terus menghantui pikirannya hingga dewasa. Kenangan-kenangan tentang cinta pertamanya dengan Nani selalu datang dan pergi silih berganti.Inilah sebuah buku yang akan menyuguhkan kepada Anda kejutan-kejutan di setiap bagian; intensi yang kuat yang mampu memaksa kesadaran Anda untuk ikut merasakan nuansa kisahnya; juga eksplorasi gaya tutur yang mempesona, kocak, tak terduga, liar tanpa beban, satiris sekaligus tragis. Dongeng Afrizal adalah senarai kisah yang seolah-olah diceritakan oleh mulut seorang bocah nakal tetapi penuh akal, yang membawa kita pada beragam pemaknaan....

Title : Dongeng Afrizal
Author :
Rating :
ISBN : 9789791611
Format Type : Paperback
Number of Pages : 170 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Dongeng Afrizal Reviews

  • Helvira Hasan
    2018-11-11 18:18

    Saya beli buku ini langsung dari tangan penulisnya. Orangnya bersahaja, sederhana. Tapi, ceritanya cukup rumit, walau tetap bisa dinikmati. Seperti judul bukunya, cerpen2 di buku ini menyajikan bukan realita. Memang buku fiksi, jadi ya wajar. Hehehe...

  • Aditya Sylvana
    2018-10-19 12:26

    Humor dan Drama, Senyum dan airmata, diramu manis oleh Pringadi. Setiap cerita membawa kejutan yang menyenangkan.

  • Akbar Putra
    2018-10-30 17:30

    salute !

  • Zulazula
    2018-11-16 20:36

    Bagus. Tapi yang paling mengena di hati sampai membuat menangis satu cerita yang sepertinya ditulis memang khusus untuk Zane :D

  • Opiezip
    2018-11-03 17:20

    seru! kumpulan cerita yang beda dari yang pernah gue baca sebelumnya. menarik. mungkin karena gue suka cerita yang genrenya agak2 'aneh'..heheheebacalah! and enjoy it!

  • Ratri Dian
    2018-10-16 14:30

    Cemilan Rusuh Untuk Mengembalikan Kewarasan(Pembacaan terhadap Dongeng Afrizal)Lima belas karya sastra dalam satu buku setebal 165 halaman, di mana si penulis dengan bebas membicarakan hal-hal kecil semacam surat, dasi kupu-kupu, jam dinding, kartu pos, bonus SMS harian, kanvas, album foto, tarif listrik, sampai ke potongan senja, Ikarus, pembunuhan Presiden, setan, bahkan juga Djibril (ya, dengan ‘Dj’!) dan Tuhan. Masing-masingnya merupakan unsur dari bangunan metafora yang dapat dimaknai secara lebih luas dan mendalam. Dongeng Afrizal, demikian judul buku baru dari penulis muda Pringadi Abdi Surya ini. Sampul depannya didominasi warna kuning dengan lukisan sepasang manusia bertopi yang sedang asyik menikmati tayangan televisi di atas awan. Di bagian paling atasnya bertengger satu kalimat singkat tapi mampu manyajikan efek yang selaras dengan gambar latarnya :”Kenangan-kenangan tentang cinta pertama selalu datang dan pergi silih berganti…”. Judul diletakkan di bagian tengah, kemudian dengan berendah hati nama penulis menghuni bagian paling bawah. Kecerdasan pertama dalam buku ini adalah kemampuannya untuk tidak berusaha meletakkan pembaca pada posisi tertentu untuk mempersempit jarak dengan si penulis, melainkan si penulis sendiri yang datang menghampiri para pembaca, menawarkan cerita-cerita – sebagian bisa dipercaya dan sebagian yang lain (bagian yang lebih besar) berada di luar definisi-definisi yang lumrah berlaku. Penulis tak ragu-ragu menggunakan sapaan ‘kau’ untuk pembaca; bahkan mengikutsertakannya sebagai tokoh dalam cerita. Misalnya dalam cerita pertama berjudul ‘Surat Kedelapan’, dalam paragraf kedua penulis mengatakan : “Lantas kau pasti bertanya, kenapa aku tak mengirimnya lewat pos saja? Kau tahu, aku laki-laki. Aku lebih malu jika aku menunjukkan ketidakjantananku di hadapannya. Sebab kau tahu, laki-laki harusnya berani mengungkapkan perasaannya secara langsung kepada wanita yang dicintainya. Tidak seperti aku.” Juga dalam ‘Vaginalia’ – cerita kesepuluh : “Nama kamu Muhammad. Saya suka perilakumu terhadap saya. Kamu menemani saya duduk di sebelah kantin. Memesan dua mangkuk bakso : satu buat kamu, satu buat saya. ‘Saya yang traktir,’ katamu sambil tersenyum.” Kecerdasan nomor dua dalam buku ini adalah keberanian penulis untuk tidak selalu mematuhi kaidah ejaan yang baik dan benar – bukan karena kekeliruan atau ketidakmautahuan, melainkan karena pada beberapa titik hanya dengan itulah bahasa mencapai tingkat efektivitas tertingginya. Misalnya dalam cerita kesembilan, ‘Satu Cerita tentang Cerita yang Tak Pernah Kuceritakan Sebelumnya’, penulis tahu-tahu mengawali kisahnya dengan kalimat berikut ini : “Sebab tidak pernah ada yang tahu aku mampu kembali ke masa lalu dan mengubah segala hal yang keliru itu.” Juga dalam salah satu paragraf di cerita ‘Tuan, Nyonya, dan Cerita di Balik Kartu Pos’ : “Aku sedang menyiapkan makan malam. Ketika tiba-tiba Tuan muncul dari balik pintu dapur dan mendekatiku. Sudah sore.”Membunuh yang Seakan-Akan Satu di antara begitu banyak hal yang menyebabkan dunia persinetronan Indonesia menjadi sangat menyedihkan barangkali adalah kesembronoannya untuk mempermainkan permainan; di mana karakter-karakter tidak sungguh-sungguh digali, dipelajari, dan dimainkan sehingga yang muncul di layar kaca adalah para siluman : setengah ini setengah itu. Untung saja, hal serupa tidak terjadi pada Dongeng Afrizal. Penulis tampaknya telah bekerja keras menyelami karakter-karakter yang hendak dimainkannya dalam buku ini, sehingga penulis tampak ringan saja melakoni perannya sebagai perempuan, anak kecil jenius, seorang skizofrenik, seorang pemuda tak berpendidikan, penembak jarak jauh, dan seterusnya; bahkan memungkinkan juga baginya untuk melakukan switching peran dalam satu cerita dengan penuturan yang wajar dan alami. Kalau dalam beberapa bagian kecil ada penuturan yang agak tidak sesuai dengan karakter tokoh, proporsi keterjadiannya dalam buku ini sangat kecil. Misalnya ketika dalam cerita ‘Djibril dan Aku’, si tokoh ‘aku’ yang ‘hanya’ seorang kurir mampu mengucapkan kata-kata yang terlalu teknis : “Aku ditangkap dan dibawa ke kantor kepolisian setempat untuk dimintai keterangan”. Ini kecerdasan nomor tiga.Bukan Semata Bentuk ‘Domba-Domba dalam Suratmu’, ‘Tuan, Nyonya, dan Cerita di Balik Kartu Pos’, dan ‘Vaginalia’, ketiganya mengungkapkan realita yang memperihatinkan mengenai posisi perempuan yang pada beberapa titik begitu lemah dan semakin dilemahkan dengan semakin diterimanya anggapan bahwa kebebasan penyaluran nafsu keinginan sebagai bagian yang tidak-dijual-terpisah dengan gerak kemajuan zaman. Penulis juga tak segan-segan melancarkan protes terhadap polisi yang masih ‘kotor’ dan tidak cukup cerdas, dokter jiwa yang tidak cukup mampu memahami kondisi mental pasien-pasiennya, bahkan presiden yang cerdik dan menyebalkan. Dengan pemilihan kata dan pengungkapan yang ringan, lucu, dan apa adanya, yang timbul kemudian bukanlah kesan lelah dengan profesi-profesi di atas – toh kita sudah terlalu sering merasakannya – melainkan seolah-olah penulis sedang mengajak kita untuk bersama-sama menertawakan diri kita sendiri, bersama-sama menertawakan kebodohan-kebodohan kita sendiri. Dan mungkin tidak hanya ada penulis dan pembaca dalam suatu karya, melainkan juga ada penulis-penulis lain dengan karyanya masing-masing. Pringadi menghadirkan mereka dalam Dongeng Afrizal, entah karena sebegitu terpesonanya dengan karya-karya mereka atau sengaja ingin membangun pertalian antara mereka. Dalam semrawut-nya segala tatanan dalam negara (dan dunia) ini, Pringadi telah sedang membagi-bagikan kegilaan (rasa frustrasi dan juga tawa) sebagai produk dari kegelisahannya. Dongeng Afrizal, sebuah cemilan rusuh untuk mengembalikan kewarasan kita. Semoga._ratridian_Jakarta : Minggu, 5 Juni 2011 : 09.55

  • Dodi Prananda
    2018-10-30 13:39

    Setelah sukses dengan buku kumpulan puisi tunggalnya, Alusi (Pustaka Pujangga, 2009), Pringadi Abdi Surya menyapa publik ranah sastra Indonesia dengan sebuah buku kumpulan cerpen tunggalnya, Dongeng Afrizal (Kayla Pustaka). Sebagai seorang penulis muda Indonesia, Pringadi terbilang produktif dalam menulis cerpen dan puisi di media nasional dan lokal-nasional seperti Suara Merdeka, Jurnal Bogor, Harian Global, Sumatera Ekspres, Padang Ekspres, hingga Berita Pagi.Buku ini menghimpun 15 cerpen Pringadi yang pernah dipublikan di pelbagai media di Indonesia. Hampir sebagian dari cerpen dalam buku Dongeng Afrizal ini, Pringadi mengusung genre fiksi surealias yang mengedepankan kisah-kisah fantastis yang absur tetapi dibalut dengan hal-hal yang menyentuh perasaan manusia dengan sisi romantis yang pas. Beberapa kisah fantastis itu tersaji dalam cerpen-cerpen seperti Surat Kedelapan, Resital Kupu-Kupu, Seseorang dengan Agenda di Tubuhnya, Macondo,Melankolia, Setan di Kepala Ibu, Domba-domba dalam Suratmu, Djibril dan Aku, Tuan,Nyonya dan Cerita di Balik Kartu Pos, Satu Cerita tntang Cerita yang Tak Pernah Kuceritakan Sebelumnya, Vaginalia, Dongeng Afrizal, Dongeng Ikarus, Pareidolia, Fiksimaksi:Tuhan dan Racauan yang Tak Tuntas, dan Senja Terakhir di Dunia.Balutan kisah surealis yang disuguhkan secara romantis kental terasa pada cerpen Surat Kedelapan. Pringadi menawarkan kisah yang dibalut secara unik, romantis dan akhir cerita yang menyentak. Cerita bermula tentang seorang aku yang mempunyai koleksi tujuh surat cinta yang belum sempat diberikannya kepada Zane, kekasih yang merupakan istrinya. Hingga kemudian tanpa sengaja ketika ia membaca ulang semua surat itu, ia melihat sebuah figura yang didalamnya ada jawaban atas semua surat yang belum sempat dikirimkan kepada Zane. Pringadi terlihat sangat sukses dalam menggarap cerpen Surat Kedelapan ini, hal ini terlihat dari begitu sabarnya Pringadi dalam menulis cerita ini sehingga emosi yang terkumpul dalam penulisan cerpen ini dengan mudah ditransfer kepada pembaca. Kendatipun unggul pada bahasa tutur aku yang sangat berkaitan dengan emosi pembaca, cerpen Surat Kedelapan ini mengingatkan kita dengan gaya tutur Seno Gumira Ajidarma dalam beberapa cerpennya yang mengusung konsep surealis serupa yaitu Alina dan Sukab. Ditambah dengan adanya tokoh Sukab dan Zane yang mengingat pada tokoh perempuan yang kerap dihadirkan Seno dalam kebanyakan cerpennya.Kelihaian Pringadi dalam membangun suspense (ketegangan) dalam cerpen-cerpennya juga terlihat dalam cerpen Resital Kupu-Kupu. Cerpen ini bermula dengan tiga hal yang tidak ingin dilakukan tokoh aku. Pertama, memakai dasi kupu-kupu yang selalu dikait-kaitkan dengan peristiwa kematian sahabatnya yang ditabrak truk ketika ia memegang kupu-kupu. Kedua, ketakutan tokoh aku pada kupu-kupu dan terakhir yaitu menceritakan semua hal yang dianggapnya sebagai sebuah rahasia kepada oranglain. Tanpa disadari, pembaca terhipnotis dalam alam khayal dan imajinasi Pringadi melalui cerita yang sangat absurd tersebut.Pada sisi lain, Pringadi juga menyuguhkan sentilan-sentilan yang bersifat satir pada cerpen Seorang dengan Agena di Tubuhnya. Pringadi memilih gaya tutur Solilokui, yaitu bahasa tutur aku yang didomonasi pada narasi aku hingga akhir cerita tanpa melibatkan tokoh lain pada segmen dialog dan kalimat langsung. Ada sentilan yang dialamatkan pada aparat kepolisian dalam cerpen ini seperti yang terlihat dalam kutipan berikut “…dia seorang anak yang bercita-cita menjadi polisi. Saya geli dengan profesi yang satu ini. Baru kemarin saya kecurian. Kemudian saya ke kantor polisi melakukan pelaporan. Bukan bantuan yang saya dapatkan, saya malah dimintai biaya dua ratus ribu dengan alasan administrasi…(hal 30).Sentilan yang lebih ekstrem pun terdapat pada kalimat “..daripada merekaditangkap polisi lebih baik mereka menjadi polisi..”. Cerpen ini sarat akan penceritaan terhadap tekanan batin yang dialami oleh tokoh aku yang merupakan anak seorang pelacur. Ia kerap diolok, dipandang sebelah mata bahkan kerap menjadi bahan gunjingan. Pelabelan sosial terhadap dirinya, semakin jauh membuat ia semakin dideskeditkan. Cerita ini berakhir dengan antiklimaks dimana ibu tokoh aku bunuh diri, diluar hal itu, diceritakan bahwa yang membuhnuh ibu adalah anaknya sendiri karena ibu telah berbohong padanya.Cerpen-cerpen lain dalam buku ini banyak mengundang misteri, tanda tanya bahkan emosi yang diaduk-aduk oleh keliahaian Pringadi dalam menaik-turunkank suspense cerita. Buku ini menjawab kerinduan pembaca sastra Indonesia akan karya-karya surealis yang sarat mutu, seperti cerpen-cerpen yang dihadirkan Seno Gumira Ajidarma, Agus Noor, Dewi Ria Utari hingga sederet cerpenis yang concern pada penulisan fiksi bergenre surealis. Buku ini wajib Anda miliki sebagai koleksi buku fiksi berkualitas Anda. (Dodi Prananda)

  • Mandewi
    2018-10-21 15:29

    Dongeng Afrizal mengaburkan pandangan saya mengenai ‘dongeng’. Kata dongeng seharusnya merujuk pada cerita-cerita manis yang diakhiri dengan kebahagiaan. Tetapi buku ini lain. Ia dipenuhi dengan kematian. Dan kegelapan. Dan kebingungan. Dan kejutan. Dan renungan. Dan (kadang) kelucuan. Sialan!Kamu tahu bagaimana perasaan saya ketika menuliskan kata terakhir tadi? Iri! Saya berharap bisa menulis cerita sebaik ini. :)Mulai membaca cerita ke-tiga, tiba-tiba saya teringat Kukila (kumpulan cerpen karya M. Aan Mansyur). Sama-sama bernapaskan fiksi/fantasi. Bedanya, Dongeng Afrizal menggunakan jalinan kata yang lebih sederhana. Lebih sederhana, lebih mudah dimengerti dan lebih indah. Menurut selera saya, saya lebih menikmati membaca Dongeng Afrizal daripada membaca Kukila.

  • Diana
    2018-10-19 15:35

    Awalnya tertarik karena judulnya, saya kira penulisnya Afrizal Malna. Hehe. Tapi ternyata pas baca-baca, asik juga ya.. Bahasanya mengalir, ceritanya unik dan sebagian besar mengejutkan. Di beberapa cerita muncul tokoh Alina dan Sukab, yang menunjukkan si penulis pengagum Seno Gumira Ajidarma. Meski tak senakal Seno dalam bercerita, saya rasa karya-karya Abdi selanjutnya layak ditunggu dan dibaca. :)

  • Pringadi Abdi
    2018-11-15 18:18

    Buku prosa terbaik tahun 2011

  • Dian Nurhadiana
    2018-11-08 16:21

    This is the bestsurealist short story book I've ever read

  • Tenni Purwanti
    2018-10-22 17:23

    Saya 'lahap' semua cerpennya hanya dalam sekali duduk. Review bisa dibaca di link berikut: http://rosepr1ncess.blogspot.com/2014...

  • Naminist
    2018-11-02 17:43

    mengejutkan, tak terduga, mengalir deras seperti air terjun...